Hey cantiek….
Hey perempuan yang aku puja, bagaimana kabar mu sekarang disana?―saat kau masih berada di posisimu. Saat aku menduga bahwa kamu menanti kehadiran ku.
Aku mohon tetaplah kau berada pada posisi mu, janganlah kamu beranjak dari tempat mu sampai benar-benar aku menemukan mu.
Baru setelah aku melewati hari-hari ku bahkan sampai ribuan hari aku belum juga menemukan dimana kamu berada? Bergegaslah untuk bergerak dan memberi kabar yang pasti kepada angin—tentang keberadaan mu, agar aku dapat menerima pesan-pesan yang kamu layangkan lewat angin. Walaupun aku tak tau sebenarnya, apakah kamu pernah melayangkan berita tentang diri mu kepada ku lewat angin?
Akan tetapi setiap aku merasakan silirnya angin yang bergesekan dengan setiap indra ku, hati dan fikir-ku selalu terinspirasi bahwa adanya diri mu telah lama menanti keberadaan ku—kabur-kabur aku menerjemahkannya.
Hanya saja—aku bergumam: maafkan aku, saat ini aku lelah untuk terus mencari mu, seakan aku telah putus asa. Dalam kondisi ini aku mencoba untuk terus membulatkan tekad untuk tetap mencari mu, walaupun yang tersisa dalam jasad ku hanya kulit dan tulang—begitu aku menilai perjuanganku dalam mencari tau tentang kamu—sehingga aku dapat menuai pandangan bahwa ketika aku dalam keadaan seperti itu kamu memang benar bergegas menyuruh angin untuk memberikan kabar kepada ku tentang kabarmu di sana.
Setelah aku pahami lebih dalam akupun mengerti…
Andai aku tidak salah mempersepsikan posisi kamu saat ini, kamu adalah seorang perempuan yang memang sedang mencari dimana keberadaan ku. Situasi yang seperti inilah yang aku harapkan semenjak pertama kali aku terinspirasi akan gambaran-gambaran mengenai kamu akibat dari aku mencoba memahami bahasa komunikasi antara pribadiku dengan gesekan hembusan angin.
Dengan situasi seperti ini pulalah aku ingin berusaha mengenal terlebih dahulu tentang siapa diri pribadi ini sebelum aku ingin mengenal lebih jauh siapa dirimu? Atau paling tidak aku harus mengenal sebenarnya gejala apa yang sedang bergejolak dalam jiwa yang bersemayam di jasadku yang “ringkih” ini? Jangan-jangan aku salah memaknai apa yang sedang terjadi dalam setiap inchi kehidupan ku ini.
Benci, cinta, amarah, rindu atau bahkan dendam….
Ah…biasa baa..e!! (Ah..biasa saja!!—red.)
Hey Cantiek…
Hey perempuan yang aku puja,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar