Sajak-sajak Cinta
“Tak Mampu Memahami”
Saat aku menatap indah biru hamparan Samudera
Seakan aku tak percaya bahwa Samudera memang benar-benar indah
Karena aku tak begitu memahami
Apa keindahan itu sendiri?
Juga sama halnya dengan indah biru hamparan langit
Amboi… terpaku aku menatapnya
Menyelami setiap relung keindahan yang tersibak dari kelopak mata ini
Seraya terbersit dalam pikiranku,
Siapa gerangan sang pelukis ini?
Aduh!!!
Syuur… angin
Seakan menamparku
Aduh!!! aku hanyut dalam lamunan di bibir pantai
Oh… hamparan langit biru
Hasil kamuflasekah engkau?
Oh… hamparan samudera biru
Mengkamuflasekah engkau?
Menjadikan langit ini biru
Ups! Ternyata aku tak mampu memahaminya
Sama halnya ketika aku memahami cinta
Sama halnya ketika aku memahami benci
Semuanya sama-sama indah ketika dinikmati
“Alam Telah Menggambarkan Semua”
Ketika fajar hendak menyingsing
tuk memberikan pencerahan pada dunia
Aku masih saja belum mengalami pencerahan
Tentang, apa itu cinta?
Sedang alam selalu merepresentasikannya
Lewat isyarat-isyarat yang ada
Hati dan akal ini tak pernah sadar
Untuk mamahami secara tuntas
Hanya saja aku pernah mendengar, begini:
“Niscaya, tidak akan ada kehidupan tanpa ada cinta”; dan
“Kau… akan menyadari ketika meneliti kembali hidupmu,
Bahwa saat-saat di mana kau benar-benar hidup
Adalah saat-saat ketika kau telah melakukan sesuatu dalam semangat cinta”
Lalu bagaimana dengan isyarat alam
Ia selalu menampilkan kehidupan
tak ada yang tak berpasangan
Siang ditemani malam
Suka dilawan duka
Menurutku…aku tak memahami cinta
Jika, aku tak memahami benci
Karena keduanya sangat tipis
untuk dibedakan
dan juga sulit untuk dipisahkan
Aku takut mengungkapkan kata cinta
Jangan-jangan ada kawannya yang siap menemaniku nanti
“Perjalanan”
kaki melangkah
tak tentu arah
entah sampai kapan terus berpikir
sedang alat berpikir masih tersatir
tapi tetap memaksa diri untuk beranjak
mencari suasi di hati dan pikiran
ganjalan apa yang terpendam?
kaki berayun mencari diri,
diri melangkahkan kaki
kaki tertusuk duri
karena hati dan akal tak berbekal diri
untuk melangkahkan kaki
aku coba memahami semua
adakah hikmah di balik peristiwa?
lalu apa dan bagaimana?
sedang aku seorang papa yang nestapa
miskin pikir, mentah jiwanya
menempuh suluk cinta
“Sajak Inklusif-Pluralistik”
Tak etis
untuk disebut romantis
Jika tak memahami, bahwa inklusif-pluralistik itu manis
Ya… bagaimana tidak?
Satu pihak memandang harmonis
di lain pihak menilai sinis
Tak mengerti…
Ada yang bilang egois
Ada yang dibilang apatis
Coba cermati…
Senandung lagu dan tembang-tembang sumbang
lewat teknologi-teknologi transistor,
Dan, senandung lagu dan tembang-tembang lantang
lewat petikan dan getaran dawai gitar
Yang pertama, dibilang mengusik
Lainnya juga dibilang berisik
Sampai-sampai membuat hati ini tergelitik
Sembari menulis sajak dengan asyik
Walau nantinya dianggap tak unik
Tahu…
dan semuapun tahu
ada keanekaragaman, di situ
Asoi…
tak ada salahnya kita buat harmonis
dan kita bikin romantis
dengan cara dan saat-saat yang etis
By Subhan Nur
..............................................................................................
Ada dan Tiada
Seakan aku tak percaya
Bahwa Engkau itu ada
Oooh…rabb-ku
Tapi, aku tak ingin
Menjadi orang yang paling bodoh dan
Menjadi orang yang paling celaka
Di dua dimensi kehidupan
Di mana, saat aku memercayai
Bahwa Engkau itu tiada
Oooh…rabb-ku
Sehingga bagaimana aku dapat meyakinkan diri
Bahwa Engkau ada
Sedang Engkau adanya bagaikan tiada
Oooh…rabb-ku
Dari Sebuah Proses
Andai saja suatu saat
Aku tau tentang Engkau
Ooh beruntung nian
Dan…
Ah! Biasa saja
Karena aku ada di sini
Saat ini, bukan saat nanti
Ah! Biasa saja
Karena aku ada di sini
Saat ini aku mencari diri
Dan…
Ah! Biasa saja
Karena aku ada di sini
Saat ini sebagai sesuatu
yang ada kemudian
Ya…
Sesuatu yang baru
Sesuatu yang diciptakan
Aku ada, bersama
Yang Maha Ada
.......................
Dari sebuah proses
By Subhan Nur - oehan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar